Mengamati Masjid Suciati Saliman, Yogyakarta [Opini]

Keberadaan masjid tentu menjadi hal yang lumrah di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduknya yang muslim. Beraneka ragam pendekatan dan latar belakang tentu sudah lama berkembang seiring berjalannya waktu dan pembangunan masjid di banyak tempat.

Diantaranya adalah Masjid Suciati Saliman yang berlokasi di Jalan Gito Gati, Sleman, DIY. Masjid yang diprakarsai dan dibangun oleh sebuah keluarga tersebut cukup menarik perhatian berbagai kalangan. Salah satu hal yang mudah sekali diamati, bahwa sejak diresmikannya masjid ini sering terlihat banyak kalangan yang menyempatkan berfoto-foto disana. Mungkin juga sebagian besarnya tertarik dengan gaya desainnya yang “seperti di Masjid Nabawi, Madinah”. Ya, tentu saja hal tersebut menuai pro dan kontra khususnya antara pengamat awam dengan kalangan perencana atau arsitek. “Tidak memiliki originalitas penuh” menjadi isu yang mudah sekali dihembuskan karena menilik pola desainnya yang “menyontek” desain bangunan lain. Disisi lain, tentu hal tersebut menjadi hal yang lumrah dan sah sah saja, toh buktinya justru berhasil menarik banyak orang untuk datang dan menjadikannya latar belakang foto. Sepotong paradigma.

Baiklah, mari keluar dari bahasan tersebut.

Sore ini kami berkesempatan (baca: menyempatkan diri) untuk duduk-duduk dan mengamati Masjid Suciati Saliman dari salah satu sudutnya. Tak jauh di seberang jalan, kami menemui angkringan dan kurang lebih dari sanalah sekilas pengamatan terjadi sambil mencoba belajar mensketsa. Apa saja yang terlintas?

1. Eye Catching haruskah mepet jalan?

Sangat mungkin bahwa mepetnya bangunan Masjid Suciati Saliman ke jalan raya bukan hal yang sengaja dilakukan secara serta merta. Mepet jalan mungkin membuat bangunan ini mudah terlihat dan serasa “dekat” dengan pengguna jalan. Bisa saja karena memang keterbatasan lahan dan tak menemui opsi lahan lainnya. Meskipun demikian, apakah hal tersebut untuk dipaksakan? Menurut kami tidak. Toh, lihat saja bangunannya yang terlihat cukup megah, ditambah dengan pemilihan material-material yang cukup premium. Hal tersebut sekali lagi membuktikan adanya kecukupan dana dari Keluarga Suciati. Lantas, mengapa tidak mencoba untuk menyiapkan lahan yang lebih pantas, atau memperluas lahan dengan membebaskan tanah disekitarnya? Sekali lagi, mungkin ada faktor lain yang melatarbelakanginya. Semoga saja bukan sebatas ego klien, atau “karep”, atau “pokoke”. Semoga saja.

Mengapa kami berpendapat bahwa lahan adalah variabel penting?..

2. Lahan tak hanya tentang Parkir

Jika mempermasalahkan lahan parkir, tentu menjadi kurang relevan karena pihak Masjid Suciati setidaknya sudah memiliki basement, dan bahkan membebaskan lahan untuk khusus parkir tak jauh dari bangunan masjid. Namun, kami rasa lahan yang cukup lapang tetap menjadi hal yang seharusnya tidak bisa diabaikan. Terkait parkir, bukan hanya dimana lahan parkirnya, tetapi juga bagaimana kemudahan akses dari orang turun kendaraan menuju entrance / pintu masuk masjid. Dan facade masjid yang utuh pun tak bisa dinikmati dengan mudah. Perhatikan saja foto yang kami ambil dari seberang jalan, “tercemari” dengan kabel kabel menjuntai dan objek-objek lainnya.



3. Kemudahan akses lansia, difabel, dan keamanan lalu lalang Jamaah saat ramai menjadi pertanyaan

Lupakan tentang ramp khusus, karena pasti sulit mewujudkannya di lahan yang sangat terbatas. Mungkin hal tersebut bisa diatasi dengan adanya elevator -namun kami belum memastikannya karena waktu berkunjung yang singkat dan kondisi pandemi yang sedikit banyak membatasi keleluasaan mengeksplorasi ruang. Dan bayangkan saat masjid ini ramai jamaah karena pengajian khusus, atau sholat hari raya; betapa riskannya lalu lalang jamaah yang terlalu bersinggungan dengan jalan raya, dan bukankah alangkah baiknya jika saat hari raya Masjid dapat menyelenggarakan sholat jamaah dengan keutamaan di tanah lapang.

Tentu ini hanya secuil pengamatan yang berhasil kami telaah dalam waktu yang singkat. Satu hal yang dapat disimpulkan bahwa dalam merancang fasilitas publik, khususnya dalam hal ini Masjid, termyata kecukupan dan keseuaian lahan menjadi variabel yang sangat penting dan tidak bisa diabaikan atau dipisahkan dari urgensi desain bangunan itu sendiri. (/bydave).

Post a Comment

0 Comments